Rabu, 11 November 2009

Menjadi Kaya dengan Kejujuran (1)

Amenangi Zaman Edan,
Ewuh aya ing pambudi,
Melu edan nora tahan,
Yen tan melu anglakoni,
Boya kaduman melik,
Kaliren Wekasanipun,
Dilalah Karsa Allah,
Begja-begjane kang lali,
Luwig begja kang eling lawan waspada.

( Mengalami Zaman Gila, serba sulit dalam pemikiran, ikut gila khawatir tidak tahan, kalau tidak ikut gila jelas tidak akan dapat bagian, akibatnya kemiskinan, kesengsaraan, dan kelaparan mendera; tetapi atas kehendak Tuhan, seuntung-untungnya orang yang lupa diri, tetap masih untung orang yang sadar dan waspada ).

A. MENGAPA HARUS MALU UNTUK JUJUR?
SUNGGUH! Untaian syair pada bait ketujuh karya sastra klasik Serat Kalatidha yang terbungkus dalam “tembang Sinom” di atas merupakan ekspresi jiwa dan pikiran hebat dari seorang pujangga besar Tanah Air, Raden Ngabehi Ranggawarsita pada 1861, seakan tak pernah lapuk terguyur oleh derasnya modernitas zaman. Malah, tak jarang selalu dijadikan referensi dalam menyikapi perubahan demi perubahan denyut kehidupan.

Seperti kita ketahui, Ranggawarsita adalah pujangga Keraton Kasunanan Surakarta. Dari garis ayah, ia adalah cicit seorang pujangga, Raden Ngabehi Yasadipura I dan cucu dari Raden Tumenggung Sastranegara atau Yasadipura II, yang keduannya adalah pujangga top pada zamannya. Ranggawarsita memang piawai mengungkap keadaan zaman, baik yang semasa ia hidup maupun di kemudian hari setelah ia meninggal. Bahkan, kini goresan penanya tentang kegilaan zaman, masih terjadi dan tidak menutup kemungkinan intensitas dan kualitas keedanannya jauh lebih dahsyat.
Sesuai dengan makna harfiah teks syair tersebut, zaman yang dilalui sekarang ini memang sudah gila. Kita mengalami kerepotan untuk mengalami kerepotan untuk menentukan sikap. Kalau ingin larut dalam kegilaan sebenarnya dalam lubuk hati yang terdalam tidak tahan. Toh, bila tidak ikut-ikutan gila jelas tidak akan mendapat bagian. Namun, sudah menjadi Kehendak Tuhan, bagaimanapun juga seberuntung-beruntungnya mereka yang lupa diri, masih lebih beruntung yang selalu ingat dan waspada.

Mendiang Wakil Presiden RI, Adam Malik, pernah menyinggung “Zaman Edan” di dalam pidatonya tanggal 23 Desember 1982, pada waktu menyerahkan Piagam Satya Penegak Pers kepada sepuluh orang wartawan.

Dalam pidato Adam Malik yang dimuat dalam tajuk rencana harian Kompas tanggal 27 Desember 1982 itu, dikatakan bahwa keadaan dunia sekarang tidak jauh berbeda dengan keadaan yang dilukiskan dalam Kitab Kalatidha.

Menurut Adam Malik, kita diajak mawas diri dengan bertanya pada kita masing-masing, mengapa begini? Apakah tindakan kita sudah benar? Apakah yang harus kita lakukan? Janganlah hendaknya kita terjatuh dalam kemunafikan. ( Catatan : menurut ahli kebudayaan Jawa, Karkono Kamajaya Partakusumo dalam Kebudayaan Jawa, Perpaduannya dengan Islam, tentang Zaman Edan karya Ranggawarsita bukan termaktub dalam Kitab Kalatidha melainkan dalam Kitab Jaka Lodhang ).

Tajuk rencana Kompas juga menambahkan, “Kalatidha” juga melukiskan kemunafikan manusia dengan ungkapannya “Alim-alim pulasan, njaba putih, njero kuning. Artinya, alim yang hanya selaput belaka, di luar putih, tetapi di dalamnya kuning.”
Zaman Edan memang bisa muncul setiap saat. Dalam suatu kondisi apa pun dan kapan pun, baik secara individual maupun komunitas, dapat menciptakan kegilaan Zaman.

Tanpa bermaksud menggurui, rasanya akan sangat pas dan tidak salah, jika kita bercermin dengan wasiat keteladanan dari Ranggawarsita di atas. Coba kita garis bawahi kata eling dan waspada ( ingat dan selalu siaga dalam kewaspadaan ) jika kita tidak ingin tercabut dari akar jati diri kita sebagai makhluk (manusia) yang diwujudkan oleh Tuhan.

Harus diakui, bahwa jati diri kita ini sudah jebol oleh himpitan materialitas. Kekuatan-kekuatan dari dalam diri kita (inner power) yang sudah disiapkan perangkatnya oleh Tuhan sejak kita masih berada di dalam kandungan ibu, seakan terlupakan atau sengaja kita lupakan. Dalam praktiknya lebih mengandalkan factor eksternal dibumbui dengan dominasi akal untuk meraih tujuan.

Seringkali hati atau perasaan dikesampingkan. Akhirnya, yang haram pun direkayasa menjadi samara-samar atau bila perlu dimodifikasi menjadi halal. Alasannya, mencari yang haram saja susah apalagi yang halal. Dalam dunia usaha bagi para pengusaha atau job description yang harus dipenuhi seorang karyawan, pakem haram dan halal seakan menjadi nomor kesekian. Akibatnya, sikap jujur dipetieskan.

Aduh! Sekarang ini rupanya kehidupan kita sedang ter-tsunami oleh virus ketidakjujuran. Orang merasa malu kalau harus jujur. Jika dapat pakai tipu-tipu alias bohong meski kadarnya sedikit mengapa harus jujur segala. Sebab, tak jarang kalau jujur malah hancur. Tapi, saya yakin bahwa kejujuran itu pasti membawa kemujuran.

Kejujuran itu memang berangkat dari hati atau batiniah. Jika sikap jujur itu sudah mewarnai bingkai hati, maka akan memunculkan suatu kebugaran jiwa. Setelah di dalam batin tertanam kejujuran, lalu secara lahiriah pun akan terekspresikan. Bila demikian akan sangat berpengaruh pada lingkungan social, termasuk di dalamnya ketika kita melakukan aktivitas bisnis dan bekerja.

Sikap dan perilaku jujur untuk mengerjakan suatu pekerjaan akan dapat diselesaikan secara baik, karena dalam proses pengerjaannya dilandasi ketulusan hati. Kejujuran akan menuntaskan semua masalah atau problem secara bijak. Di dalamnya ada unsur keadilan, kedisiplinan, objektivitas, dan tidak pilih kasih.

Lain halnya, bila hati dan pikiran kita sudah menggenggam kebohongan, maka pengejawantahannya pun juga penuh dengan bohong. Karena niatnya memang sudah bohong. Mungkin untuk sementara waktu orang tidak merasa dibohongi, tetapi pada akhirnya orang akan paham dan tahu kalau mereka dibohongi. Seorang pengusaha yang memasukkan item bohong dalam produknya jelas pada suatu kesempatan akan diketahui oleh konsumen. Akibatnya fatal. Konsumen meninggalkan produk dari pengusaha itu. Ujung-ujungnya si pengusaha itu gulung tikar alias bangkrut.

Demikian pula bagi seorang karyawan. Ketika seorang karyawan itu sudah mendapat kepercayaan tinggi dari bos, maka godaan untuk tidak jujur sering menghunjam dalam hati dan pola pikirnya. Lalu, penggelembungan atau mark up anggaran dilakukan. Tujuannya, tidak lain untuk menyelipkan duit perusahaan ke kantung pribadi. Barangkali satu kali, dua kali, tiga kali, tak terendus. Namun, saya yakin bahwa perilaku karyawan yang “menyeleweng” itu pasti terditeksi. Jika sudah demikian, tak pelak karyawan itu akan ternistakan, karena tidak saja dipecat, bisa jadi berurusan dengan terali besi.

Kejujuran dan ketidakjujuran tidak saja jadi topik hidup seorang pengusaha dan karyawan untuk meraih kesuksesan atau kekayaan. Kejujuran dan ketidakjujuran seharusnya juga menjadi agenda utama bagi para pengendali negara ini. Tapi, tidak jarang, bahwa mereka yang sekarang berada pada posisi membuat kebijakan lupa dengan modal yang diberikan Tuhan, yakni kejujuran. Buktinya, tidak sedikit para pejabat yang digulung oleh hukum karena tidak jujur.

Konkretnya : terjadi korupsi, nepotisme, dan kolusi. Walaupun sudah dirancang dan dibarikade dengan aturan main hukum dengan ancaman yang tidak ringan, ternyata juga belum dapat menyadarkan para pejabat itu untuk tetap jujur. Meski, kita juga harus mengakui, masih banyak pemegang tampuk pimpinan yang kemanapun dan di mana pun selalu menggunakan kejujuran sebagai referensinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar