Kamis, 12 November 2009

Menjadi Kaya dengan Kejujuran (3) (Tamat)

Lain halnya, ketika kita miskin tanpa modal sesen pun, maka optimalisasi yang harus dilakukan adalah mencuatkan sifat kejujuran sebagai saham untuk meraih kekayaan. Dengan jujur akan menggulirkan kekuatan dahsyat pada diri seseorang. Karakter pribadi kita akan terbentuk, sehingga orang lain akan dengan singkat menaruhkan kepercayaan. Jadi, kejujuran itu merupakan magnet yang kuat untuk menarik kepercayaan dari orang lain.

Setiap pribadi yang mengedepankan kejujuran dalam semua aktivitasnya, akan memancarkan pesona yang punya daya persuasif. Tak pelak lagi, bila orang lain yang sudah menaruh kepercayaan kepada kita, maka otomatis materi akan mengalir dengan sendirinya ke diri kita.

Saya akan memaparkan keteladanan Nabi Muhammad Saw. Pemilihan pada sosok Muhammad ini bukan bertendensi agamis. Tapi, figur hebat ini diakui oleh dunia Barat angkat jempol dan menempatkan beliau pada rangking pertama untuk orang yang paling dahsyat kekuatannya.

Tentu saja, karena beliau dipilih Tuhan, maka segala gerak-geriknya dipantau langsung oleh Sang Pemilih. Tetapi, sebagai pribadi, Muhammad memang mamiliki dominasi sifat jujur. Malah, sebelum dinobatkan oleh Tuhan untuk menjadi Nabi, kalangan masyarakat Mekah pun sudah memberinya gelar Al-Amin yang artinya dapat dipercaya.

Demikian pula, aktifitas Yesus Kristus, Sidharta Gautama, atau tokoh-tokoh religi hebat lainnya, yang selalu menempelkan kejujuran dalam setiap aktivitasnya. Dengan kejujuran itulah, hingga sekarang ini meskipun para beliau itu sudah wafat, toh manusia masih mempercayainya.

Pemaparan saya dengan mencontohkan para manusia pilihan di atas, bukan berarti saya menggunakan dalih agamis untuk meraih kekayaan. Silakan saja kalau Anda akan menggunakan cita-cia jahat untuk meraup kekayaan. Memang kenyataan yang terjadi simbol-simbol agama sering dipakai untuk menggali kekayaan dan keuntungan. Simbol dan doktrin agama dipergunakan untuk berbisnis.

Gavin Kennedy dalam bukunya Negotiate Anywhere! (1987), menulis dalam kata pengantarnya, “Pesan sentral saya ialah bahwa Anda dapat berunding di luar negeri asalkan Anda ingat bahwa budaya memang mempengaruhi perilaku mitra runding Anda dan jikalau Anda ingin berbuat lebih baik dalam perundingan-perundingan Anda, Anda harus menyadari dengan lebih baik pengaruh dari budaya mitra Anda atas dirinya, sebagaimana Anda pun dipengaruhi oleh budaya Anda sendiri.”

Gavin juga menulis, “ Kendati untuk melakukan bisnis Anda tidak perlu masuk Islam, akan tetapi adalah bijak bagi Anda untuk belajar sesuatu mengenai Islam, sejarahnya dan pernyataan imannya, dan meperlakukan perwujudan-perwujudan yang modern dengan rasa hormat.”

Jadi, saya tidak bermaksud memaksakan Anda untuk mencontoh perilaku para utusan Tuhan tersebut. Tapi, nilai-nilai bijak dan baik termasuk di dalamnya kejujuran agaknya tetap relevan kita jadikan pegangan.

Sekali lagi, dalam dunia bisnis banyak dijumpai bahwa kejujuran kadang hanya sebagai lipstick yang akhirnya sangat mudah terhapus. Banyak yang akhirnya mencibir dengan ungkapan kalau jujur justru akan hancur. Betulkah demikian? Anggapan seperti itu memang sudah terlanjur mewabah, karena sengaja atau tidak sengaja sistem dan mekanisme bisnis sudah terlanjur membelenggu nilai-nilai kejujuran. Modal jujur yang merupakan inti gerak kehidupan termasuk dalam bisnis, rasa-rasanya telah dikebiri atau mengalami disfungsi.

Kejujuran dalam jagat usaha tidak hanya diterapkan dalam komponen atau bahan pendukung sebuah produk. Tetapi, kejujuran dimulai dari perencanaan, penuangan konsep dalam sebuah jalinan sistem, dan strategi baik untuk promosi maupun pemasaran. Kejujuran merupakan way of business bagi para pelaku bisnis.

Tetapi, walaupun kejujuran dalam sanubari kita ini dikebiri atau mengalami disfungsi, maka mari kita olah lagi. Kita berdayakan lagi kejujuran kita masing-masing. Bagi Anda yang suka bohong, cobalah untuk jujur sedikit. Pada mulanya terasa menyesakkan dengan berlaku jujur itu. Tapi, lama-kelamaan menuai hasil lebih baik secara kuantitas maupun kualitas.

Sampai kapan pun kejujuran tetap memiliki relevansi untuk semua aktivitas. Faktor kejujuran memiliki dampak positif pada era sekarang ini yang serba mengedepankan kalkulasi-kalkulasi metematis secara materi. Tentu saja, sifat, sikap, dan perilaku jujur ini harus dimulai dari para pemegang kekuasaan di birokrasi, sehingga rakyat dapat menilai sekaligus mencontohnya.

Namun, bisa sebaliknya, kejujuran dari masyarakat melalui tingkatan individu menjadi satire atau sindiran untuk para elite penguasa. Kalau rakyatnya sudah jujur, tapi ternyata pemimpinnya tetap saja demen dengan tipu-tipu, maka pasti Sang Maha Jujur tidak akan tinggal diam. Tangan Tuhan ikut campur mengharubirukan sebuah Negara atau daerah yang pemimpinnya tukang ngibul.

Yakinlah! Jika bingkai kejujuran dijadikan awal dan paripurna sebuah kemasan bisnis, maka keuntungan pasti datang dengan sendirinya. Begitu juga, bila hati dan pikiran kita sudah diformat dengan kejujuran, niscaya menjadi kaya itu gampang. Ingat sebuah ungkapan yang sangat lekat di masyarakat, yaitu : sekali lancung ke ujian maka seumur hidup orang tidak akan percaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar